Newsticker

Detail Berita

Dukungan BP2LHK Kupang Dalam Pelatihan Singkat Manajemen Pengelolaan Kura-Kura Leher Ular rote.

Dukungan BP2LHK Kupang Dalam Pelatihan Singkat Manajemen Pengelolaan Kura-Kura Leher Ular rote.

Balai Litbang LHK (BP2LHK) Kupang mendukung kegiatan Pelatihan Singkat Manajemen Pengelolaan Kura-kura Leher Ular Rote yang juga melibatkan Peneliti BP2LHK Kupang yaitu Dr. Kayat, S.Hut.,M.Sc dan Teknisi Litkayasa Lamek Paidjo sebagai narasumber, hal itu disampaikan Kepala Balai Litbang LHK Kupang Erwin, S.Hut., M.Hut saat memberikan sambutan pada acara tersebut di Aula BP2LHK Kupang (13/8/2021).

2

Lebih lanjut Erwin menyampaikan secara singkat kegiatan penelitian kura-kura leher ular rote yang telah dilaksanakan sejak 2010. Kegiatan penelitian berawal dari indukan yang diberikan oleh Menteri Kehutanan saat itu Bapak MS Kaban sebanyak 2 pasang dan saat ini telah berkembang sebanyak 33 ekor anakan.

Sebelumnya, acara didahului dengan laporan pelaksanaan kegiatan oleh Mulyo Hutomo Kepala Bagian Tata Usaha BBKSDA NTT dan secara resmi dibuka secara virtual oleh Hans Nico A. Sinaga, S.Hut., MP. selaku Plt Kepala BBKSDA NTT. Dalam pembukaannya Nico menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian dari perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2021.

Disamping pelatihan ini, persiapan pada tingkat tapak sudah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten Rote Ndao dan masyarakat di sekitar danau yang akan menjadi lokus kegiatan repatriasi kura kura leher ular rote ini. Penyiapan kandang habituasi yang dinamakan IKH (Instalasi Kesehatan Hewan) dan sudah mendapatkan ijin dari Badan Karantina di Kantor Seksi Wilayah II BBKSDA sehingga ketika kedatangan dari kura-kura akan dihabituasi dengan ditempatkan pada kandang kandang yang telah disiapkan dan seluruh fasilitas yang ada merupakan pendanaan dari WCS-IP.

Dalam pelatihan ini terdiri dari teori pada hari pertama di Aula BP2LHK Kupang dan praktek pada hari ke dua di KHDTK Oelsonbai. Materi meliputi biologi, ekologi, teknik hadling rehabilitasi dan reproduksi, penanganan kesehatan dan tata laksana pengelolaan kura kura leher ular rote.

Kura-kura leher ular rote merupakan salah satu jenis kura-kura yang dilindungi oleh Permen LHK P. 106 Tahun 2018, ucap Dr. Kayat saat menyampaikan materi di hari pertama.

Di Indonesia, terdapat 6 jenis kura-kura leher ular yang tersebar di wilayah NTT dan Papua. Khusus jenis kura-kura leher ular rote dengan nama ilmiah Chelodina mccordi ini memiliki habitat asli yang berasal dari Pulau Rote Provinsi NTT. Kura-kura leher ular rote ini memiliki anatomi dengan kepala panjang dan ditepinya terdapat sisik serta iris matanya yang berwarna hitam dan gendang telinga yang berukuran relatif besar, ungkap Kayat.

Lebih lanjut Kayat menambahkan bahwa kura-kura jenis ini mengalami permasalahan khususnya terkait populasi dihabitat aslinya seperti penurunan populasi yang diakibatkan eksploitasi yang berlebihan serta akibat kerusakan habitat dari kura-kura leher ular rote.

Adanya berbagai faktor yang melatarbelakangi permasalahan populasi kura-kura leher ular dihabitat aslinya, seperti habitat yang sudah tidak sesuai, adanya konversi lahan, populasi ternak meningkat, pencemaran pestisida, dan adanya predator, sehingga saat ini dibutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pihak agar dapat melestarikan dan mengembalikan populasi kura-kura leher ular rote dihabitat alaminya, tambah Kayat.

Di hari ke-2 (14/8/2021) dilaksanakan praktek di KHDTK Oelsonbai berupa pengukuran fisik kura-kura, simulasi penetasan telur dan penanganan kura-kura sebelum dilakukan repatriasi yang merupakan kegiatan Handling konservasi Ex situ kura-kura leher ular rote.

1_1

Sebelum memulai praktek Kayat menerangkan bahwa di KHDTK Oelsonbai sendiri telah berhasil melakukan upaya breeding kura-kura leher ular rote dengan jumlah individu 5 anakan, 5 remaja, dan 2 dewasa.

Diharapkan dengan adanya pelatihan yang diselenggarakan oleh  BBKSDA NTT, BP2LHK Kupang dan WCS-IP ini memberikan manfaat yang sangat baik dalam rangka konservasi penyelamatan dan peningkatan populasi kura-kura leher ular rote yang statusnya saat ini kritis serta mendukung pelestarian satwa liar di Indonesia khususnya NTT.

Kemudian peserta dapat memahami bagaimana handling dari satwa liar kura-kura leher ular rote dari Singapore zoo ini tidak stress karena mendapatkan penanganan tepat. Pemahaman tentang morfologi serta behaviour dari kura-kura leher ular rote ini sudah dapat dipahami oleh peserta sehingga kegiatan repatriasi ini dapat berjalan dengan baik. Kesadaran mengenai peran penting peserta akan menjadi sangat penting dalam kesusksesan pengelolaan kura-kura leher ular rote ini.

Acara diikuti oleh 20 orang peserta terdiri dari staf fungsional, PEH, Polisi Kehutanan selama 2 hari tanggal 13-14 Agustus 2021 di Aula BP2LHK Kupang dan di KHDTK Oelsonbai.