Newsticker

Detail Berita

Mengenal lebih dekat tanaman Strobilanthes cusia

Mengenal lebih dekat tanaman Strobilanthes cusia

Di dalam industri kain tradisional yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia, seperti kain batik dan tenun, pewarna merupakan salah satu komponen penting untuk membuat kain. Dengan pewarna, kain dapat memberikan daya tarik terhadap para pecinta kain tradisional. Warna dan motif yang berpadu bersama juga dapat memberikan pesan tentang dari mana kain tersebut berasal dan terdapat sebuah pesan yang disampaikan oleh perajin kain tradisional.

Industri kain tradisional baik dalam skala besar maupun skala rumahan, banyak yang menggunakan kain pewarna sintetis, namun tidak sedikit pula terdapat perajin yang masih mempertahankan pewarna yang berbahan dasar dari alam, teruma dari tumbuh-tumbuhan. Salah satu tanaman yang sering digunakan adalah tarum atau taum (Indigofera tinctoria) yang ketika diolah dengan benar akan menghasilkan warna biru. Namun tarum bukan satu-satunya jenis tumbuhan yang dapat menghasilkan warna biru, Strobilanthes cusia adalah salah satu jenis tanaman yang juga dapat menghasilkan warna biru.

S cusia yang termasuk dalam famili Acanthaceae merupakan tumbuhan semak herbal yang dapat tumbuh hingga 1,5 m. Habitat tempat tumbuhan ini tumbuh berada diantara pepohonan yang memiliki kelembaban yang optimum, tumbuhan ini juga dapat hidup di tempat terbuka, namun akan mengalami pertumbuhan yang tidak baik pada daerah dengan intensitas cahaya hanya ± 15 %. Ketinggian tempat biasa dijumpai di daerah berbukit dengan ketinggian ± 1.000 m diatas permukaan laut.

S. cusia memang belum banyak dikenal di Indonesia, namun di China dan India, pernah dikembangkan dengan skala yang besar untuk memenuhi permintaan pewarna alami. Sumber warna biru, diperoleh dari sumber yang sama seperti pada tumbuhan tarum yaitu berasal dari daunnya. Apabila tanaman ini dikembangkan untuk mendapatkan pewarna biru, S. cusia dapat dipanen sebanyak 2-3 kali dalam setahun, atau 3 bulan sekali untuk diambil daunnya sebagai bahan dasar pewarna alami. Setelah pemanenan, tanaman S. cusia  akan tumbuh kembali dengan cukup baik karena telah memiliki sistem perakaran yang telah mantap.

IMG-20200309-WA0018

 

Dalam hal budidaya, perbanyakan S. cusia dapat dikatakan mudah untuk dilakukan. Perbanyakan secara vegetatif lebih disukai karena keberhasilannya dapat mencapai lebih dari 90 % dengan perawatan yang teratur dan baik. Biasanya tanaman S. cusia yang telah dipanen, daun-daun akan dipisahkan dari batang-batang yang telah mengerah, dan batang-batang ini kemudian digunakan sebagai bahan tanaman baru melalui stek batang. Untuk pengolahannya, daun-daun yang telah terkumpul biasanya akan direndam di dalam air selama ± 24 jam untuk memunculkan zat biru yang berasal dari daun dan batang muda yang diikuti dengan adanya buih yang berwarna biru pula. Dari air yang telah tercampur inilah kemudian diolah lebih lanjut untuk menjadi pasta pewarna basah maupun kering agar lebih mudah digunakan dalam pewarnaan kain dan lebih mudah disimpan. Dengan telah dikenalnya S. cusia yang memiliki fungsi sebagai pewarna biru alami, diharapkan dapat menjadi alternatif sumber pewarna biru selain dari tanaman lain seperti tarum. Selain itu, penggunaan pewarna alami untuk mewarnai kain juga dapat terjaga kelestariannya.

 

warna

 

Saat ini, Peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPLHK) Kupang KLHK, Dani Pamungkas, S.Hut., M.For.Sc. bersama dengan peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi dan Perubahan Iklim (P3SEKPI) KLHK, bekerjasama dengan Threads of Life Bali, Yayasan Bambu Lestari, Murdoch University Australia dan ICRAF, melakukan penelitian dan pendampingan pengembangan tanaman S. cusia dibawah tegakan bambu dalam hal pemanfaatan lahan di areal tegakan bambu alam sejak tahun 2019, yang terselenggara melalui program bernama Kanoppi Project-2 di Desa Radabata, Bajawa, Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan ini tengah berjalan dan telah memberikan manfaat berupa pengetahuan tentang tanaman S. cusia kepada masyarakat yang terlibat mulai dari budidaya dan pemanfaatnnya. Selain itu, masyarakat juga mendapatkan keterampilan tambahan berupa proses pengolahan tanaman ini menjadi pewarna biru yang siap digunakan dalam bentuk pasta basah dan kering. Pasta pewarna ini juga memiliki nilai harga yang cukup baik apabila dikelola dengan baik. Target dari kegiatan ini dan sekaligus harapan di masa mendatang yaitu masyarakat yang telah memiliki pengetahuan terkait S. cusia dapat memanfaatkan tanaman ini dengan sebaik-baiknya dan diharapkan dapat meningkatkan dan menambah mata pencaharian masyarakat.

 

strobilanthes