Newsticker

Detail Berita

Mengenal Lebih Dekat Satwa Liar di KHDTK Oelsonbai

Mengenal Lebih Dekat Satwa Liar di KHDTK Oelsonbai

Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah semi arid yang memiliki potensi satwa liar yang nyaris punah. Untuk menyelamatkan  satwa tersebut dari kepunahan diperlukan suatu upaya pelestarian di luar habitat alami (ex-situ) yaitu dengan cara penangkaran. Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Oelsonbai merupakan salah satu tempat dimana Balai Litbang LHK Kupang melakukan penelitian satwa liar endemik NTT. Terdapat empat jenis satwa liar endemik NTT yang nyaris punah dapat ditemui secara langsung di stasiun penelitian Oelsonbai diantaranya Rusa Timor (Rusa timorensis), Kura-kura leher ular rote (Chelodina mccordi), burung Nuri Tanimbar (Eos reticulata) dan Bayan Sumba (Lorius roratus cornelia). Di alam bebas satwa bisa memilih pakan yang disukai untuk dikonsumsi, di tempat penangkaran tidak ada pilihan dalam hal pakan karena tergantung petugas yang memberi pakan. Namun jangan khawatir, petugas akan memberikan pakan sesuai dengan pakan yang biasa dikonsumsi oleh satwa di alam habitatnya.

Tahukah kamu satwa yang ada di KHDTK Oelsonbai biasanya memakan apa? Dan bagaimana keseharian petugas dalam mengurus satwa tersebut?

Setiap pagi dan sore hari merupakan waktu sibuk para petugas untuk mengurus satwa-satwa yang ada. Masing-masing petugas mengurus satwa sesuai tugasnya dimana petugas tersebut mengurus satwa-satwa mulai dari pemberian pakan hingga kebersihan kandang.

Lamek Paidjo yang merupakan salah satu petugas di KHDTK Oelsonbai menuturkan bahwa Rusa Timor diberi pakan sebanyak dua kali sehari yaitu pagi pada pukul 08.00 WITA dan sore hari pukul 17.00 WITA. Pemberian pakan pada Rusa Timor dilakukan dengan cara pengaritan baik musim hujan maupun musim kemarau. Petugas memotong dedaunan di kebun milik masyarakat setempat yang telah dibeli atau mencari dan memotong dedaunan dari dalam hutan. Pakan yang disediakan terdiri dari dedaunan dan ranting muda serta rerumputan. Jenis dedaunan yang diberikan salah satunya adalah lamtoro. Pakan diletakkan di tempat pakan terbuat dari drum besi. Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan jumlah Rusa Timor dalam penangkaran  (13 ekor jantan dan 10 ekor betina). Pakan lamtoro yang diberikan dalam kondisi segar karena Rusa lebih menyukai pucuk daun muda sedangkan untuk Air minum diberikan secara terus menerus dengan menyediakan tempat minum dari bak buatan berbahan semen. Kualitas air pada tempat minum diperhatikan dan dilakukan pergantian air secara berkala. Selain itu Rusa Timor diberikan garam untuk  memenuhi kebutuhan mineralnya. Garam tersebut digantung dalam kandang penangkaran sehingga Rusa Timor dapat menjilatnya.

Lingkungan dan sanitasi kandang selalu terjaga agar tidak lembab terutama pada saat musim hujan. Ranting-ranting sisa pakan Rusa Timor akan selalu dibersihkan atau diangkat seminggu sekali.

DSC_0047

Burung Nuri Tanimbar  di KHDTK Oelsonbai berjumlah 4 ekor dan Bayan Sumba berjumlah  1 ekor, kedua jenis burung ini mempunyai karakteristik yang khas yaitu memiliki paruh bengkok. Marselina Ese Mado petugas yang sehari-hari mengurus burung–burung tersebut menjelaskan, pakan diberikan sebanyak dua kali sehari yaitu pagi pada pukul 08.00 WITA dan sore hari pukul 17.00 WITA. Nuri Tanimbar diberi pakan pisang sementara Bayan Sumba diberi pakan pisang, jagung muda, tomat, dan kangkung. Pisang yang diberikan telah dilepaskan dari kulitnya. Pakan disajikan dalam nampan alumunium. Pakan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan burung dan habitat di alam serta air bersih disediakan setiap hari, kualitas dan kuantitas air diperhatikan.

Kondisi kandang seperti habitat alami, yaitu jauh dari keramaian tempat mudah dicapai dan diawasi, tersedianya air bersih dan di sekitar lokasi ditanami dengan pohon-pohon. Material kandang berasal dari kawat ram. Kandang burung Nuri Tanimbar terdapat rangkaian ranting untuk burung bertengger, sementara kandang burung Bayan Sumba seperti berada di habitat alami yang ditanami pohon-pohon.

DSC_4870

Kura-kura leher ular rote yang biasa di panggil si “OTE“ merupakan satwa yang sudah tidak ditemukan lagi di habitat alaminya. Namun di  KHDTK Oelsonbai si OTE telah berhasil di kembang biakkan melalui penelitian konservasi eksitu. Saat ini si OTE telah berjumlah 20 ekor, sebanyak 7 ekor di KHDTK Oelsonbai dan 17 ekor berada di laboratorium Balai Litbang LHK Kupang.

Pemberian pakan pada kura-kura leher ular rote tidak seperti Rusa Timor, Nuri Tanimbar, dan Bayan Sumba yang diberi pakan setiap hari. pemberian pakan dilakukan 2 hari sekali. Pakan yang diberikan berupa ikan segar yang telah dipotong-potong juga disediakan ikan-ikan kecil hidup di dalam kolam untuk melatih kura-kura leher ular rote menangkap mangsa, serta pembersihan kolam dilakukan 2 minggu sekali, jelas Marselina.

23

So,  buat kamu yang belum pernah melihat rusa timor, kura-kura leher ular rote dan burung paruh bengkok siapkan waktumu untuk berkunjung ke KHDTK Oelsonbai Balai Litbang LHK Kupang. ***Mhs Kedokteran Hewan Undana