Newsticker

Detail Berita

Gandeng BUMN, BP2LHK Kupang Jajaki Kerja Sama Litbang Konservasi Satwa Endemik NTT

Gandeng BUMN, BP2LHK Kupang Jajaki Kerja Sama Litbang Konservasi Satwa Endemik NTT

[BPPLHK KUPANG] _Memperluas jejaring dengan melibatkan para pihak dalam upaya konservasi terus dilakukan Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Kupang. Seperti baru-baru ini, Rabu (1/7/2020) dilakukan penjajakan kerja sama dan tindak lanjut proposal “Penelitian dan Pengembangan Satwa Endemik Nusa Tenggara Timur (NTT)” yang telah diajukan peneliti BP2LHK Kupang sebelumnya kepada AirNav Indonesia, BUMN yang bergerak di bidang usaha pelayanan navigasi udara.

Kepada jajaran Airnav Indonesia, Kepala BP2LHK Kupang, Sumitra Gunawan menyampaikan bahwa BP2LHK Kupang telah melakukan berbagai penelitian dan pengembangan terkait satwa seperti  rusa timor, burung bayan sumba, dan kura-kura leher ular rote, yang semuanya merupakan satwa endemik NTT.

“Penelitian tersebut terletak di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Oelsonbai, Kota Kupang, yang merupakan laboratorium alam seluas 20,25 Ha yang dikelola oleh BP2LHK Kupang,” ujar Sumitra dalam pertemuan daring (virtual meeting).

Dijelaskan pula bahwa Pengelolaan KHDTK Oelsonbai sudah dirancang menjadi model wisata ilmiah Oelsonbai Research Center (ORC). Model Wisata Ilmiah ORC ditujukan untuk menjawab tantangan dan kebutuhan dalam mengoptimalkan pengelolaan hutan penelitian yang dikelola oleh BP2LHK Kupang. Model wisata ilmiah ORC memiliki karakteristik yang berbeda dengan yang lain karena lebih mengedepankan promosi riset dan pengembangan flora fauna endemik yang khas di wilayah ekosistem semi arid NTT yang telah menjadi branding Satker BP2LHK Kupang. 

Menyambut baik pertemuan virtual ini, Rosedi, Sekretaris Perusahaan yang mewakili Direktur Utama AirNav menyampaikan bahwa secara prinsip, AirNav setuju terhadap proposal kegiatan litbang satwa endemik terancam punah yang diusulkan BP2LHK Kupang.

“Bahkan kami menginginkan satwa kura-kura leher ular rote dan elang flores menjadi icon dan branding AirNav Indonesia terhadap kegiatan pelestarian melalui litbang satwa endemik ini,” ujar Rosedi.

Menurut Rosedi, langkah selanjutnya adalah pembahasan terkait administrasi CSR Project melalui mekanisme Perjanjian Kerja Sama (PKS). “Program ini sedianya akan dilaunching pada bulan September, bertepatan dengan ulang tahun AirNAv,” pungkas Rosedi.

Sebelumnya, dua peneliti BP2LHK Kupang, Kayat dan Oki Hidayat memaparkan beberapa proposal yang telah diajukan sebelumnya, yaitu Konservasi Ex-Situ KuraKura Leher Ular Rote (Chelodina mccordi Rhodin 1994) di NTT; Program Adopsi Sarang Elang Flores; dan Pengembangan Pusat Rehabilitasi Burung Terancam Punah di KHDTK Oelsonbai.

Dari pihak BP2LHK Kupang, virtual meeting ini diikuti oleh pejabat struktural dan peneliti. Sedangkan pihak dari AirNav Indonesia diwakili oleh Sekretaris Perusahaan, Manager CSR, PH GM Kupang, Manager Teknik, Kepala Cabang Ende dan staf cabang Ende.***DISPRA