Newsticker

Detail Berita

Kendalikan Longsor, Peneliti Balitek DAS Solo Rekomendasikan Rekayasa Vegetatif

Kendalikan Longsor, Peneliti Balitek DAS Solo Rekomendasikan Rekayasa Vegetatif

Balitek DAS (Surakarta, Januari 2019)_Di penghujung tahun lalu, kita dikejutkan dengan kabar bencana longsor di Desa Cimapag, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Bukan saja merugikan secara material, bencana yang terjadi Selasa (31/12/2018) ini juga memakan korban jiwa yang cukup banyak. Prihatin dengan kejadian tersebut, Ir. Heru Dwi Riyanto, Peneliti Balai Litbang Teknologi Daerah Aliran Sungai (Balitek DAS) menyatakan, sebetulnya risiko bencana longsor dapat dikendalikan. Rekayasa vegetatif adalah solusinya.

"Umumnya pembahasan longsor lebih banyak ditekankan pada air/curah hujan dan lahan, padahal kejadian longsor berkaitan dengan komponen air, tanah dan tanaman. Pembahasan pentingnya tanaman dalam penanggulangan longsor belum banyak dilakukan,” kata Heru, seperti dikutip dalam bukunya yang berjudul Rekayasa Vegetatif untuk Mengurangi Longsor.

Menurutnya, bencana longsor dapat dicegah dengan menjaga tanaman di lereng. Tanaman akan menyerap air dan akarnya mengikat tanah. Karena, prinsip pencegahan longsor adalah mencegah air supaya tidak terkonsentrasi di bidang luncur, mengikat massa tanah agar tidak meluncur dengan cara merembeskan air ke lapisan tanah yang lebih dalam dari lapisan kedap air.

"Tanah gundul di lereng harus dihijaukan. Lereng terjal yang berpotensi longsor sebaiknya dihindari dengan tidak membangun rumah di kaki lereng. Tebing terjal dekat jalan dan permukiman sebaiknya dilandaikan untuk mencegah runtuh,” tegasnya.

Oleh karena itu, Heru menyatakan, pemilihan jenis tanaman merupakan kunci penting dalam keberhasilan mitigasi bencana longsor dengan rekayasa vegetatif. Pemilihan jenis tanaman tersebut harus memperhatikan peran atau fungsi tanaman, zona potensi longsor, serta elevasi atau ketinggian tempat tumbuh tanaman dari muka laut. 

Heru juga menyatakan bahwa saat ini Balitek DAS telah berhasil menginventarisasi 47 jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk rekayasa vegetatif. Ke-47 jenis tanaman tersebut, diantaranya: Sukun (Artocarpus communis), Nangka (Artocarpus heterophylla), Mimba (Azadirachta indica), Tayuman (Bauhinia hirsula), Kupu-kupu (Bauhinia purpurea), Kenanga (Cananga odorata), Trengguli(Cassia fistula), Johar (cassia siamea), Asem (Tamarindus indica), Cengkeh (Syzygium aromaticum), Aren (Arenga pinnata), Jambu mente (Anacardium occidentale), Kemiri (Aleurites mollucana), Damar (Agathis alba), Bambu (Bambusa sp), dan Cempedak  (Artocarpus champeden).

Terkait itu, Heru menyarankan pemahaman tipologi tanaman dalam penanggulangan bencana longsor menjadi penting untuk dikaji. Tanaman dengan tipologi tajuk dan perakaran mempunyai peran penting untuk mencegah atau mengeliminir kejadian longsor.

“Pada lahan-lahan yang miring diperlukan jenis tanaman yang mempunyai perakaran yang dalam dan akar serabut yang banyak. Tujuannya untuk meningkatkan daya cengkram tanah oleh akar dan akar mampu mengurangi kemungkinan terjadinya pergerakan tanah,” tegas Heru.***

 

Sumber : http://www.menlhk.go.id